Tugu Jogja: Menikmati Pesona Malam di Landmark Kota Pelajar

Jika sudah menapaki wilayah Yogyakarta, maka tidak sah rasanya apabila tidak mengunjungi salah satu landmark kota gudeg, selain Malioboro, yaitu Tugu Pal Putih atau lebih dikenal sebutan Tugu Jogja.

Jika dibandingkan dengan Tugu lainnya, seperti Tugu Monas yang berada Ibu Kota, Tugu Jogja memiliki ukuran yang jauh lebih kecil. Meskipun demikian, Tugu Jogja setiap harinya tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan, terutama pada malam hari.

Dari segi desain, Tugu Jogja dibangun dengan tampilan yang khas akan budaya jawa. Terdapat beberapa tulisan latin jawa atau hanacaraka pada tiap sisi tugu. Namun, dibalik itu semua, ternyata Tugu Jogja menyimpan sejarah panjang, mulai dari bentuknya yang telah berubah dari bangunan awal hingga latar belakang pembangunan tugu tersebut.

Sejarah Tugu Jogja

Hal pertama yang perlu kamu ketahui mengenai Tugu Jogja, yaitu tugu ini tidak hanya memiliki satu nama, namun juga dikenal dengan tiga nama lainnya, antara lain: Tugu Pal Putih, Tugu Golong Gilig, dan Tugu Malioboro. Tugu Jogja pada awalnya berfungsi sebagai penanda dari batas utara Kota Yogyakarta.

Selain itu, Tugu yang dibangun oleh Raja pertama Keraton Yogyakarta yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1756 ini memiliki kaitan era dengan garis imajiner yang berada satu garis membentang dengan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan.

Garis Imajiner Kota Yogyakarta

Garis Imajiner Kota Yogyakarta – Sumber: kanaljogja.id

Pada awal pembangunannya, bentuk dari Tugu Jogja bukanlah seperti yang kita lihat saat ini. Dahulu bentuk asli dari Tugu Jogja memiliki tiang dengan bentuk silinder (gilig) dan puncaknya tidak runcing seperti saat ini, melainkan berbentuk bulat (golong).

Latar belakang dari pembuatan tugu dengan bentuk lama tersebut bertujuan untuk melambangkan persatuan rakyat dan penguasa (termasuk kepada kehendak Tuhan YME) untuk bersama-sama menghadapi penjajah atau dalam filosofi jawa dikenal juga dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti. Sehingga dari latar belakang dan bentuk Tugu tersebut, maka diberilah nama Golong Gilig.

Fungsi lain dari berdirinya Tugu Golong Gilig, yaitu sebagai penanda arah ke Gunung Merapi dengan melihat ke bagian Gilig atau lingkaran untuk Sri Sultan Hamengkubuwono I saat sedang melakukan meditasi dari kawasan Keraton.

Setelah memasuki usia satu abad, terjadi gempa besar yang mengguncang Kota Yogyakarta dan menyebabkan banyak bangunan yang roboh, termasuk sepertiga pilar Tugu Golong Gilig yang kemudian dikenal dengan peristiwa candra sengkala. Gempa ini terjadi tepatnya pada tahun 1867 saat masa kepemimpinan Raja Sri Sultan Hamengkubuwono VI.

Setelah peristiwa candra sengkala, Tugu Golong Gilig sempat terlantarkan selama kurang lebih dua dekade. Pembangunan ulang tugu baru dilakukan saat masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono VII dan kemudian diresmikan pada tahun 1889.

Pada masa pembangunan ulang inilah terjadi perubahan bentuk, dari yang awalnya berbentuk bulat dan silinder, berubah menjadi persegi dengan puncak yang lancip. Dari segi tinggi tugu juga mengalami perubahan, dari yang semula 25 meter menjadi lebih rendah 10 meter.

Tugu dengan bangunan baru ini didesain oleh YPF Van Brussel yang merupakan warga negara Belanda. Hilangnya lambang persatuan antara rakyat dan raja diduga merupakan salah satu strategi yang dilakukan Belanda untuk memecah belah persatuan rakyat Jogja. Walaupun pada akhirnya, strategi tersebut berujung dengan ketidakberhasilan.

Pada keempat sisi Tugu baru, terdapat prasasti yang mencatat sejarah pembangunan Tugu dalam tulisan aksara jawa. Hingga saat ini, tidak ada perubahan yang dilakukan pada bentuk tugu baru, melainkan hanya perawatan bangunan saja.

Lambang Sri Sultan Hamengku Buwono VII

Lambang Sri Sultan Hamengku Buwono VII – Sumber: kratonjogja.id

Tugu Golong Gilig Saat Ini

Agar masyarakat tidak melupakan sejarah dari berdirinya Tugu Jogja, maka pada tahun 2015 telah dibangun sebuah miniatur Tugu Golong Gilig pada sisi tenggara Tugu baru. Pada miniatur yang dibangun ini tertuliskan sejarah lengkap dari Tugu Golong Gilig.

Miniatur bentuk asli Tugu Golong Gilig

Miniatur bentuk asli Tugu Golong Gilig – Sumber: kratonjogja.id

Saat ini Tugu Jogja telah berubah menjadi tempat wisata yang wajib dikunjungi wisatawan saat berada di Jogja. Setiap malamnya tempat ini tidak pernah sepi, bahkan hingga dini hari tiba.

Beragam aktivitas menarik sering diadakan di sekitaran Tugu Jogja, seperti dari komunitas sadar literasi yang menyediakan buku gratis untuk dibaca, diskusi publik, hingga seniman lokal yang berkostum dengan dandanan hantu yang menyeramkan dan dapat diajak berfoto bersama.

Selain itu, bagi kamu yang hobi kuliner juga dapat mencoba beragam jajanan yang ada di sekitar Tugu, mulai dari jajanan khas angkringan, gudeg, kafe modern, atau sekedar menikmati kopi dengan pemandangan Tugu Jogja.

JIka kamu ingin berfoto di Tugu Jogja, tetap berhati-hati, karena lokasi tugu berada tepat di tengah-tengah perempatan besar yang selalu ramai dengan kendaraan berlalu lalang.

Lokasi Tugu Jogja

Galeri Foto Tugu Jogja di Malam Hari

Tugu Jogja

Tugu Jogja

Tugu Jogja Malam Hari

Tugu Jogja Malam Hari – Sumber: Instagram @wahyumusyifa

Ngopi di Tugu Jogja

Ngopi di Tugu Jogja – Sumber: Instagram @emmoymoy

Nongkrong di Tugu Jogja

Nongkrong di Tugu Jogja – Sumber: kotajogja.com

Becak di Tugu Jogja

Becak di Tugu Jogja – Sumber: Potograpero.com

Pesona Malam Tugu Jogja

Pesona Malam Tugu Jogja – Sumber: @saegaleri

Tinggalkan Komentar